Deforestasi Tahun 2018 Di Aceh Berdampak Buruk Terhadap Masyarakat

Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyebutkan bahwa deforestasi hutan di Aceh pada Tahun 2018 menurun. Pernyataan ini disampaikan oleh GIS Manager Yayasan HAkA, Agung Dwinurcahya, pada Konferensi Pers HAkA & FKL di Oasis Hotel, Banda Aceh pada Hari Rabu, 23 Januari 2019. Pada tahun 2018, angka kehilangan tutupan hutan di Provinsi Aceh mencapai 15.071 Ha. Angka ini menurun dibanding deforestasi pada tahun 2017, yaitu sebesar 17.820 Ha. Kabupaten tertinggi yang mengalami deforestasi adalah Aceh Tengah (1.924 Ha) disusul Aceh Utara (1.851 Ha), Gayo Lues (1.494 Ha), dan Nagan Raya (1,261 Ha). Saat ini Tutupan Hutan di Aceh tersisa 3.004.352 Ha.

Pemantauan kerusakan hutan dilakukan dengan teknologi penginderaan jauh citra satelit dan dibantu dengan deteksi otomatis GLAD Alerts dari Global Forest Watch (GFW) yang kemudian dilakukan interpretasi secara visual. Area yang terpantau rusak akan dilakukan ground check langsung oleh Tim FKL.
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh yang menjadi fokus area kerja HAkA juga mengalami kerusakan. Angka deforestasi pada tahun 2018 adalah sebesar 5.685 Ha. Jika dihitung berdasarkan kabupaten yang terdapat di KEL, Kabupaten yang mengalami deforestasi terparah adalah Gayo Lues (1.063 Ha), Nagan Raya (889 Ha) dan Aceh Timur (863 Ha). Tutupan hutan di KEL Aceh hingga Bulan Desember 2018 menyisakan 1.799.715 Ha lagi.

Pemantauan kerusakan hutan dilakukan dengan teknologi penginderaan jauh citra satelit dan dibantu dengan deteksi otomatis GLAD Alerts dari Global Forest Watch (GFW) yang kemudian dilakukan interpretasi secara visual. Area yang terpantau rusak akan dilakukan ground check langsung oleh Tim FKL.
Sejak tahun 2016 angka deforestasi di KEL Aceh terus menurun tiap tahunnya. Angka deforestasi di KEL Aceh pada Tahun 2016 sebesar 10.348 Ha, 2017 sebesar 7.066 Ha, dan 2018 sebesar 5.685 Ha. Sementara di TNGL Aceh Deforestasi pada Tahun 2016 sebesar 460 Ha, 2017 sebesar 624 Ha, dan 2018 sebesar 807 Ha.

Sementara itu T. Pahlevie dari Koordinator Monitoring Forum Konservasi Leuser (FKL) mengungkapkan bahwa, pada tahun 2018, temuan kasus pembalakan, perambahan dan pembukaan jalan meningkat. FKL menemukan sebanyak 2.418 kasus pembalakan liar (4.353,81 m³), 1.838 kasus perambahan (7.546,3 ha), dan 108 kasus pembukaan akses jalan (193.85 km).

“Kabupaten tertinggi kasus pembalakan liar adalah Aceh Selatan (473 kasus) diikuti oleh Aceh Timur (437 kasus) dan Aceh Tamiang (377 kasus). Sedangkan kabupaten tertinggi kasus perambahan hutan adalah Aceh Timur (378 kasus) diikuti oleh Gayo Lues (326 kasus) dan Aceh Tenggara (316 kasus)”, ujar Pahlevie.
Selanjutnya, Koordinator Tim Perlindungan Satwa Liar, Dedy Yansyah, mengungkapkan temuan kasus perburuan menurun pada tahun 2018, namun temuan perangkap/jerat naik. “Tahun 2018, FKL menemukan 613 kasus perburuan, dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 729 kasus. Kami berhasil menyita sebanyak 834 perangkap/jerat, nilai ini naik dibandingkan tahun lalu sebanyak 814 perangkap/jerat”, kata Dedy.
Dedy mengatakan bahwa tim FKL melakukan pemantauan aktivitas ilegal melalui monitoring dan patroli tim di lapangan. Patroli dan monitoring tersebut dilakukan selama paling kurang 15 hari setiap bulannya
HAkA juga memantau titik api dan bencana alam yang terjadi selama tahun 2018 di Aceh menggunakan sensor MODIS dan VIIRS. Sepanjang tahun 2018, jumlah titik api yang terdeteksi oleh sensor MODIS sebanyak 482 titik dan sensor VIIRS sebanyak 3.128 titik. Kabupaten tertinggi yang terdapat titik api adalah Kabupaten Gayo Lues dengan 352 titik dari sensor VIIRS dan 83 dari sensor MODIS.

Agung melanjutkan, “Jika dianalisis berdasarkan Batas Fungsi Kawasan Hutan SK KemenLHK No. 103 Tahun 2015, Setelah APL, Kawasan Hutan yang mengalami deforestasi tertinggi adalah Hutan Lindung sebesar 3.577 Ha, kemudian Hutan Produksi sebesar 2.728 Ha, dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) 807 Ha”.

Dedy mengatakan, tim lapangan FKL juga menemukan bahwa aktivitas kehutanan ilegal paling banyak ditemukan di dalam hutan lindung, kemudian hutan produksi, dan TNGL.
Laju deforestasi ini sangat berdampak dengan bencana-bencana yang terjadi di Aceh seperti banjir dan kekeringan. Ditinjau dari batas Daerah Aliran Sungai (DAS), deforestasi tertinggi di tahun 2018 terjadi di DAS Singkil / Alas yaitu sebesar 2,726 Ha. DAS Alas meliputi Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Singkil hingga ke Sumatera Utara. Sepanjang tahun 2018 terjadi 10 kasus bencana banjir di DAS Alas, angka ini yang tertinggi dibanding DAS lainnya. DAS Peusangan juga mengalami kerusakan parah, dengan angka deforestasi sebesar 1,248 Ha. Batas DAS Peusangan meliputi kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tengah yang mana sebanyak 6 kecamatan terdampak banjir dan 3 kecamatan terdampak kekeringan selama tahun 2018.

“Kawasan Ekosistem Leuser adalah sumber air penting bagi 4 juta masyarakat Aceh, dan KEL juga adalah berfungsi sebagai mitigasi bencana seperti banjir dan longsor. Kita tidak ingin ke depan masyarakat Aceh dihantam oleh bencana banjir dan kekeringan yang lebih dahsyat. Oleh karena itu, HAkA dan FKL mendesak pemerintah dan para penegak hukum untuk lebih serius melindungi kawasvan hutan dan menghukum para pelaku aktivitas kehutanan ilegal. Hutan yang sudah rusak harus segera dilakukan restorasi secara masif.”, tutup Agung.

Share

Post a comment